Rabu, 08 Desember 2010

HARIMAU SILIWANGI

Jika kita ke Jawa Barat, kalau kita perhatikan dengan seksama, ada satu nama yang paling sering digunakan di tiap daerah. Baik untuk nama jalan, gedung, stadion, kelompok, institusi atau nama lainnya. Nama tersebut adalah Siliwangi. Setiap tempat di Jawa Barat hampir dipastikan ada jalan yang bernama Siliwangi. Di beberapa tempat digunakan sebagai nama Stadion, Universitas, Kelompok kepemudaan bahkan sampai nama sebuah institusi militer setingkat kodam.
Selanjutnya bila lebih seksama, biasanya nama/kata Siliwangi akan selalu berdampingan dengan Harimau. Seakan-akan gambar/wujud harimau tersebut merupakan kata ganti dari Siliwangi. Gambaran harimau pun cukup beragam, baik cuma diwakili oleh kepalanya, wajahnya maupun gambaran badan harimau secara utuh.
Apa, Siapa itu Siliwangi ?
Siliwangi berasal dari kata Sili(h) dan Wangi. Yang jika diartikan secara utuh adalah Pengganti (Prabu) Wangi. Maksudnya adalah Siliwangi diberikan kepada raja-raja yang menjadi pengganti Prabu Wangi. Sedangkan Prabu Wangi(sutah) sendiri adalah gelar untuk Prabu Niskala Wastu Kancana, raja dari kerajaan Sunda (=Pajajaran) ke-32 sejak Prabu Tarusbawa. Wilayah kerajaannya saat itu kurang lebih meliputi provinsi Lampung, Banten dan Jawa Barat sekarang.
Sudah menjadi pengetahuan umum, terutama bagi masyarakat Jawa Barat, bahwa Siliwangi merupakan gelar bagi raja di kerajaan Pajajaran. Namun belum banyak yang tahu bahwa raja yang mempunyai gelar Siliwangi adalah tidak hanya satu. Setidaknya ada enam raja yang bergelar Siliwangi. Mereka adalah Jaya Dewata, Surawisesa, Dewata Buana, Ratu Sakti, Nilakendra dan Surya Kancana.
Hubungan Siliwangi dan Harimau
Kadang kalau kita renungkan, apa hubungan antara Siliwangi dengan Harimau ? Kenapa seorang manusia sampai digambarkan dengan seekor Harimau ?
Ada sebuah mitos yang saya ketahui sejak kecil, mitos tersebut menceritakan bahwa Prabu Siliwangi saat terdesak oleh musuh, pergi ke Gunung Sancang lalu menjelma menjadi harimau dan akhirnya menghilang (Nga-Hyang). Mitos ini tertutur secara turun temurun, bahkan bisa dipastikan semua masyarakat Sunda tahu tentang mitos ini meskipun dengan beberapa perbedaan versi. Karena begitu meresapnya mitos ini di masyarakat Sunda (Jawa Barat), maka keterkaitan antara nama Siliwangi dan Harimau dapat dipastikan berasal dari mitos ini.
Akibat mitos ini, sampai-sampai sempat saya mereka-reka bahwa orang sunda itu jaman dulunya gagah-gagah sehingga dipersamakan bagai harimau. Dan prabu Siliwangi itu orang yang sakti sehingga dapat menghilang. Rekaan saya itu lebih kurang ada benarnya juga, namun sebagian dari mitos tersebut belum bisa masuk nalar saya. Mungkin ada yang bilang memang orang jaman dulu begitu adanya. Tapi saya rasa setiap mitos ada penjelasan logisnya, ada pemicunya atau ada kisah sebenarnya yang tertutupi oleh pengaruh-pengaruh bunga-bunga cerita dari si petutur, karena mitos ini merupakan kisah lisan yang diwariskan dari mulut ke mulut.
Namun, Apakah benar manusia bisa menjadi harimau ? Apakah benar Prabu Siliwangi menghilang? Siapa Prabu Siliwangi ini?, Apakah benar dia bisa menjelma menjadi harimau dan menghilang?. Untuk itu saya coba melakuka penelitian kecil-kecilan, atau lebih tepatnya mencontek tulisan-tulisan orang lain yang berhubungan dengan ini dan menggabungkannya. Untuk itu saya urai mitos tersebut menjadi 3 masalah pokok. Yaitu Siliwangi, Ngahyang dan Harimau
Prabu Siliwangi
Seperti yang telah ungkap sebelumnya, tokoh yang mempunyai gelar Siliwangi setidaknya ada enam. Selanjutnya dari enam tersebut mana yang diceritakan dalam mitos ? Ada dua Siliwangi yang menurut saya dimungkinkan menjadi tokoh dalam peristiwa Nga-Hyang ini. Pertama adalah Prabu Nilakendra. Ini dikarenakan Nilakendra adalah raja yang terusir dari istana. Carita Parahyangan menyatakan bahwa Nilakendra mengalami "alah prangrang, maka tan nitih ring kadatwan" (kalah perang, maka ia tidak tinggal di keraton).
Serta yang kedua adalah Prabu Surya Kancana. Ini disebabkan karena memang beliaulah raja terakhir Pajajaran. Beliaupun diberitakan tidak berada di istana Pakuan. Ia diberitakan bergelar Pucuk Umum Pulasari yang berarti Panembahan Pulasari (lereng Gunung Palasari Pandeglang).
Dari kedua prabu ini saya cenderung beranggapan bahwa yang diceritakan dalam kisah ini ádalah yang terakhir yaitu Surya Kancana. Alasannya bahwa dengan “hilang-nya” beliau menyebabkan beliau tidak pernah ada penggantinya, karena yang menggantikannya pun jadi gamang akibat tidak jelasnya nasib sang Prabu ini.
Sang Prabu Nga-Hyang
Ngahyang secara harfiah berarti “menjadi Hyang”. Hyang sendiri menurut saya adalah yang di-Agung-kan, diberi derajat yang ”tinggi” dalam sisi spiritual. Sehingga Nga-Hyang berarti meng-agung-kan / di-agung-kan, dalam hal ini berati mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Di sisi lain, beberapa ahli mengartikan Nga-Hyang ini sebagai menghilang dengan proses spiritual yang tinggi. Namun dari catatan sejarah berupa prasasti atau piteket atau yang lainnya, tidak ada yang menyatakan ”Nga-Hyang”.
Jika dihubungkan dengan tidak adanya catatan sejarah mengenai peristiwa ”Nga-Hyang” ini, dapat dianggap bahwa “Nga-Hyang” ini hanyalah merupakan sebutan masyarakat umum tehadap kondisi yang terjadi. Namun jika dihubungkan dengan kejadian yang terjadi saat terakhir Prabu Surya Kencana berkuasa, bagi saya memberi sedikit titik terang. Adapun kejadian tersebut adalah sebagai berikut :
Menurut Pustaka Nusantara III/1 dan Kretabhumi I/2, pada 8 Mei 1568, Pajajaran runtuh. Saat itu utusan pajajaran (kandaga lante) menitipkan perhiasan kerajaan ke Raja Sumedang (=Geusan Ulun) serta Prabu Siliwangi memberi amanah terakhir yang dikenal dengan Uga Wangsit Siliwangi. Dalam wangsit tersebut Prabu Siliwangi menyatakan ”Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. ................... ”. Artinya kurang lebih ”Kisah kita (=Pajajaran) hanya sampai disini, meskipun kalian semua setia kepadaku! Tapi saya tidak bisa membawa kalian ikut-ikutan (bermasalah), ikut hidup susah, ikut miskin dan kelaparan. .........” .
Dengan peristiwa tersebut bisa disimpulkan bahwa sejak saat itu Prabu Siliwangi menghilang (=tiada kabar berita). Rakyat saat itu juga menyadari bahwa beliau menghilang, dan untuk menyatakan kondisi tersebut masyarakat banyak menyebutnya dengan ”Nga-Hyang” yang kurang lebih berarti hilang untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa. Sesuai amanat beliau, beliau telah menjadi rakyat jelata, namun entah dimana. Ada kemungkinan menjadi pertapa (resi) untuk mendekatkan diri pada yang kuasa.
Siliwangi Menjadi Harimau
Yang ketiga adalah mitos menjadi harimau. Berdasarkan catatan-catatan sejarah yang ada, tidak ada catatan yang menyatakan bahwa harimau pernah digunakan sebagai lambang kerajaan Sunda ataupun kerajaan pendahulunya Taruma Nagara maupun Salaka Nagara. Adapun binatang yang pernah disebutkan dalam prasasti adalah Gajah dan Lebah. Bahkan Lebah konon menjadi lambang Taruma Nagara jaman Prabu Purnawarman. Sehingga keberadaan atau penggunaan harimau ini menjadi lambang Siliwangi masih sangat kabur, meskipun kemungkinan tentu saja ada namun tak ada bukti sejarah berupa catatan, piteket, prasasti atau sejenisnya dari jaman kerajaan yang bisa direka-reka untuk dihubung-hubungkan.
Sebuah catatan pada jaman Belanda tahun 1687 sedikit membuka tabir mengenai mitos harimau ini. Catatan tersebut menyatakan tentang Laporan Scipio (peneliti asal belanda) pada Gubernur Jenderal Joanes Camphuijs yang diteruskan kepada atasannya di Belanda yang isinya memberitakan kepercayaan penduduk saat itu. Adapun laporan tersebut berbunyi "dat hetselve paleijs en specialijck de verheven zitplaets van den getal tijgers bewaakt ent bewaart wort" (bahwa istana tersebut terutama sekali tempat duduk yang ditinggikan untuk raja "Jawa" Pajajaran sekarang masih berkabut dan dijaga serta dirawat oleh sejumlah besar harimau). Laporan tersebut ditulis tanggal 23 Desember 1687.
Catatan tersebut menyebutkan bahwa sudah ada kepercayaan penduduk saat itu yang menyatakan bahwa (bekas) istana pajajaran dijaga oleh sekelompok harimau. Dan menurut catatan, pada tanggal 28 Agustus 1687 pernah ada serangan harimau terhadap rombongan peneliti di daerah tersebut. Karena kelompok harimau tersebut terkesan bagaikan para penjaga (reruntuhan) istana pakuan, maka kelompok harimau tersebut dianggap sebagai jelmaan para prajurit yang sangat setia terhadap Prabu Siliwangi.
Dengan kisah tersebut saya berkesimpulan bahwa sumber mitos harimau siliwangi berawal dari sini. Namun dalam cerita masyarakat ini, harimau tersebut hanya digambarkan sebagai para prajuritnya, Prabu Siliwangi sendiri sama sekali tidak disebut-sebut. Penggambaran harimau ini semakin kuat saat kesatuan militer yang diberi nama siliwangi dan berlambang harimau, sukses mengambil hati masyarakat jawa barat di masa perjuangan kemerdekaan.
Kesimpulan
Jadi dari uraian tersebut penulis berkesimpulan bahwa Prabu Siliwangi yang terakhir memang ”Nga-Hyang”. Namun dalam artian beliau mengundurkan diri secara politik dari hiruk pikuk kerajaan (pada saat itu). Sedangkan untuk mitos Prabu Siliwangi menjadi harimau sepertinya hanyalah sebuah mitos hasil rekaan kisah masyarakat dari mulut ke mulut, dengan dasar adanya kelompok harimau yang bagaikan penjaga istana. Dengan demikian mitos tersebut Prabu Siliwangi nga-hyang dan menjelma menjadi harimau hanyalah sebuah cerita masyarakat yang menggambarkan reruntuhan istana pakuan dengan rekayasa bumbu-bumbu mistis.

1 komentar:

  1. ya ini lebih masuk akal drpd yang cerita konyol bahwa tiga harimau silihwangi disatukan bakal dapet no rekening bank swiss

    BalasHapus