Kamis, 09 Desember 2010

KISAH KEN AROK

Ken Arok atau sering pula ditulis Ken Angrok (lahir:1182-wafat:1227/1247), adalah pendiri Kerajaan Tumapel (yang kemudian terkenal dengan nama Singhasari) ia memerintah sebagai raja pertama bergelar Rajasa pada tahun 1222-1227 (atau 1247).

ASAL USUL
--------------
menurut naskah paparaton, Ken Arok adalah putra dewa brahma hasil berselingkuh dengan seorang wanita dsa pangkur bernama Ken Ndok, oleh ibunya Ken Arok dibuang disebuah pemakaman sehingga kemudian ditemukan dan diasuh oleh seorang pencuri bernama Lembung, Ken Arok tumbuh menjadi berandalan yang lihai mencuri & gemar berjudi sehingga membebani Lembung banyak berhutang, Lembung pun mengusirnya ia kemudian diasuh oleh Bango Samparan, seorang penjudi pula yang menganggapnya sebagai pembawa keberuntungan.
Ken Arok tidak betah hidup menjadi anak angkat Genuk Buntu istri tertua Bango Samparan, ia kemudian bersahabat dengan Tika anak kepala desa Siganggeng, keduanya pun menjadi pasangan perampok yang ditakuti diseluruh kawasan Kerajaan Kediri.
akhirnya Ken arok bertemu Brahmana dari India bernama Lohgawe yang datang ketanah jawa mencari titisan Wisnu, dari ciri-ciri yang ditemukan Lohgawe yakin kalau Ken arok adalah orang yang dicarinya.

MEREBUT TUMAPEL
------------------------
Tumapel merupakan daerah salah satu bawahan Kerajaan Kediri yang menjadi akuwu (setara camat zaman sekarang) Tumapel saat itu bernama Tunggul Ametung, atas bantuan Lohgawe, Ken Arok dapat diterima bekerja sebagai pengawal Tunggul Ametung.
Ken Arok kemudian tertarik pada Ken Dedes istri Tunggul Ametung yang cantik, apalagi Lohgawe juga meramalkan kalau Ken Dedes akan menurunkan raja-raja tanah jawa, hal itu semakin membuat Ken Arok berhasrat untuk merebut Ken Dedes meskipun tidak direstui Lohgawe.
Ken Arok membutuhkan sebilah keris ampuh untuk membunuh Tunggul Ametung yang terkenal sakti, Bango Samparan pun memperkenalkan Ken Arok pada sahabatnya yang bernama Mpu Gandring dari desa Lulumbung (sekarang Lumbung Pasuruan) yaitu seorang ahli pembuat pusaka ampuh.
Mpu Gandring sanggup membuatkan sebilah keris ampuh dalam waktu setahun, Ken Arok tidak sabar lima bulan kemudian ia datang mengambil pesanan keris yang belum sempurna itu direbut dan ditusukkan ke dada Mpuh Gandring sampai tewas dalam sekaratnya Mpuh Gandring mengucapkan kutukan bahwa keris itu nantinya akan membunuh tujuh orang termasuk Ken Arok sendiri.
kembali ke Tumapel, Ken Arok menjalankan rencana liciknya mula-mula ia meminjamkan keris pusakanya pada Kebo Ijo rekan sesama pengawal, Kebo Ijo dengan bangga memamerkan keris itu sebagai miliknya kepada semua orang yang ia temui sehingga semua orang mengira bahwa keris itu milik Kebo Ijo dengan demikian siasat Ken Arok berhasil.
malam berikutnya, Ken Arok mencuri keris pusaka itu dari tangan Kebo Ijo yang sedang mabuk arak, ia lalu menyusup ke kamar tidur Tunggul Ametung dan membunuh majikannya itu di atas ranjang, Ken Dedes menjadi saksi pembunuhan suaminya namun hatinya luluh oleh rayuan Ken Arok, lagipula Ken Dedes menikah dengan Tunggul Ametung dilandasi rasa keterpaksaan.
pagi harinya, Kebo Ijo dihukum mati karna kerisnya ditemukan menancap pada mayat Tunggul Ametung.
Ken Arok lalu mengangkat dirinya sendiri sebagai akuwu baru di Tumapel dan menikahi Ken Dedes, tidak seorangpun yang berani menentang keputusan itu, Ken Dedes sendiri saat itu sedang mengandung anak Tunggul Ametung.

MENDIRIKAN KERAJAAN TUMAPEL
--------------------------------------------
pada tahun 1222 terjadi perselisihan antara Kertajaya raja kediri dengan para Brahmana, para Brahmana itu memilih pindah ke Tumapel meminta perlindungan Ken Arok yang kebetulan sedang mempersiapkan pemberontak terhadap Kediri, setelah mendapat dukungan mereka Ken Arok pun menyatakan Tumapel sebagai kerajaan merdeka yang lepas dari Kediri, sebagai raja pertama ia bergelar Sri Rajasa Bhatara Sang Amurwabhumi.
Kertajaya (dalam pararaton disebut Dhandhang Gendis) tidak takut menghadapi pemberontak Tumapel, ia mengaku hanya dapat dikalahkan oleh Bhatar Siwa, mendengar sesumbar itu, Ken Arok pun memakai gelar Bhatara Siwa dan siap memerangi Kertajaya.
perang antara Kediri dan Tumapel terjadi di dekat desa Ganter, pihak kediri kalah, Kertajaya diberitakan naik ke alam dewa yang mungkin merupakan bahasa kiasan untuk mati.

KETURUNAN KEN AROK
-------------------------------
Ken Dedes telah melahirkan empat orang anak Ken Arok yaitu Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibhaya dan Dewi Rimbu.
Ken Arok juga memiliki selir bernama Ken Umang yang telah memberinya empat orang anak pula yaitu Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wergola dan Dewi Rambi.
selain itu Ken Dedes juga memiliki putra dari Tunggul Ametung yang bernama Anusapati.

KEMATIAN KEN AROK
----------------------------
Anusapati merasa heran pada sikap Ken Arok yang seolah menganak tirikan dirinya padahal ia merasa sebagai putra tertua, setelah mendesak ibunya (Ken Dedes) akhirnya Anusapati mengetahui kalau dirinya memang benar-benar anak tiri bahkan ia juga mengetahui kalau ayah kandungnya bernama Tunggul Ametung telah mati dibunuh Ken Arok.
Anusapati berhasil mendapatkan keris Mpu Gandring yang selama ini disimpan Ken Dedes, ia kemudian menyuruh pembantunya yang berasal dari desa Batil untuk membunuh Ken Arok.
Ken Arok tewas ditusuk dari belakang saat sedang makan sore hari, Anusapati ganti membunuh pembantunya itu untuk menghilangkan jejak.
peristiwa kematian Ken Arok dalam naskah pararaton terjadi pada tahun 1247.

VERSI NAGARAKRETAGAMA
------------------------------------
Nama Ken Arok ternyata tidak terdapat dalam Nagarakretagama(1365) naskah tersebut hanya memberitakan bahwa pendiri kerajaan Tumapel merupakan putra Bhatara Girinatha yang lahir tanpa ibu pada tahun 1182, pada tahun 1222 Sang Girinathaputra mengalahkan Kertajaya raja Kediri, ia kemudian menjadi raja pertama di Tumapel bergelar Sri Ranggah Rajasa ibukota kerajaan tersebut Kutaraja (pada tahun 1254 diganti menjadi Singasari oleh Wisnuwardhana).
Sri Ranggah Rajasa meninggal dunia pada tahun 1227(selisih 20 tahun dibandingkan berita dalam pararaton) untuk memuliakan arwahnya didirikan Candi di Kagenengan dimana ia dipuja sebagai Siwa dan di usana dimana ia dipuja sebagai Buddha.
Kematian Sang Rajasa dalam Nagarakretagama terkesan wajar tanpa pembunuhan, hal ini dapat dimaklumi karna naskah tersebut merupakan sastra pujian untuk keluarga besar Hayam Wuruk sehingga peristiwa pembunuhan terhadap leluhur raja-raja Majapahit dianggap aib.
Adanya peristiwa pembunuhan terhadap Sang Rajasa dalam pararaton diperkuat oleh prasasti Mula Malurung (1255) disebutkan dalam prasasti itu nama pendiri kerajaan Tumapel adalah Bhatara Siwa yang meninggal diatas tahta kencana, berita dalam prasasti ini menunjukkan kalau kematian Sang Rajasa memang tidak sewajarnya.

KEISTIMEWAAN KEN AROK
-----------------------------------
Nama Rajasa selain dijumpai dalam kedua naskah sastra diatas juga dijumpai dalam prasasti Balawi yang dikeluarkan oleh Raden Wijaya pendiri Majapahit tahun 1305, dalam prasasti itu Raden Wijaya mengaku sebagai anggota Wangsa Rajasa, Raden Wijaya adalah keturunan Ken Arok.
Nama Ken Arok memang dijumpai dalam pararaton sehingga diduga kuat merupakan ciptaan si pengarang sebagai nama asli Rajasa, Arok berasal dari kata Rok yang artinya "Berkelahi" Tokoh Ken Arok memang dikisahkan nakal dan gemar berkelahi.
pengarang pararaton sengaja menciptakan tokoh Ken Arok sebagai masa muda Sang Rajasa dengan penuh keistimewaan, kasus yang sama terjadi pula pada Babad Tanah Jawi dimana leluhur raja-raja Kesultanan Mataram dikisahkan sebagai manusia-manusia pilihan yang penuh dengan keistimewaan, Ken Arok sendiri diberitakan sebagai putra Brahma,titisan Wisnu serta penjelmaan Siwa sehingga seolah-olah kekuatan Trimurti berkumpul dalam dirinya.
Terlepas dari benar atau tidaknya kisah Ken Arok dapat ditarik kesimpulan kalau pendiri kerajaan Tumapel hanya seorang rakyat jelata namun memiliki keberanian dan kecerdasan diatas rata-rata sehingga dapat mengantarkan dirinya sebagai pembangun suatu dinasti baru yang menggantikan dominasi keturunan Airlangga dalam memerintah pulau Jawa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar